You are here
Home > Tentang MBSEC
  1. Latar Belakang.

Secara historis masyarakat Minangkabau mempunyai budaya kewirausahaan dan sudah dikenal sebagai pelaku bisnis perdagangan (saudagar), yang melakukan aktifitas bisnis baik di Ranah Minang/Sumatera Barat, di berbagai lokasi di Indonesia, maupun di luar negeri.  Peran bisnis yang dimainkan juga beragam mulai dari pedagang/saudagar/pelaku ritel, distributor, dan produsen.  Dengan perjalanan waktu, peran-peran tersebut mulai tergerus dan melemah disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya persaingan di era globalisasi dan sistem pendidikan yang cenderung menghasilkan lulusan yang belum siap pakai termasuk di bidang bisnis.

Salah satu akibatnya adalah berbagai kekayaan budaya kreatif yang berdimensi bisnis dan potensi sumerdaya ekonomi yang dimiliki Sumatera Barat belum termanfaatkan dengan optimal.  Kecenderungan tersebut kemungkinan akan berlanjut terus jika tidak ada upaya sistematis dan terorganisir untuk merevitalisasi naluri, kompetensi, dan peran pelaku bisnis masyarakat Minangkabau khususnya dan Sumatera Barat umumnya.

Sumatera Barat mempunyai potensi sumberdaya ekonomi untuk dikembangkan.  Diantaranya di sektor pertanian dalam pengertian luas (peternakan, tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat-obatan), di sektor pariwisata, kelautan dan perikanan, dan potensi potensi ekonomi kreatif lainnya.  Globalisasi dipihak lain juga membuka peluang untuk mengoptimalkan manfaat dari potensi ekonomi yang dimiliki.  Perwujudan potensi ekonomi tersebut memerlukan SDM dengan keterampilan bisnis dan kewirausahaan yang kuat, kebijakan publik mendukung tumbuhnya UMKM dan koperasi, dan ketersediaan infrastruktur.

Sementara itu kondisi kehidupan masyarakat dan perekonomian daerah Sumatera Barat memerlukan peningkatan secara terus menerus supaya lebih sejahtera dan mampu beradaptasi dalam era globalisasi.  Angka kemiskinan dan pengangguran perlu terus diupayakan supaya turun, sementara kesempatan berusaha dan bekerja perlu terus dibuka dan dikembangkan. Keberdayaan pelaku bisnis mikro, kecil, menengah, dan koperasi perlu terus diperkuat.  Salah satunya melalui peningkatan kapasitas pelaku dan peningkatan penerapan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi, nilai tambah produk yang dihasilkan atau usaha yang dijalankan.  Potensi sumberdaya ekonomi yang ada perlu dikelola dan dimanfaatkan dengan menggunakan inovasi supaya tercipta kekayaan untuk kesejahteraan bersama.

Berdasarkan keadaan dan perkembangan yang diungkapkan diatas maka diperlukan adanya sekolah bisnis dan pusat kewirausahaan yang dapat mempersiapkan SDM pelaku yang handal untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya dan peluang ekonomi yang ada.  Arahnya adalah untuk membangun Sumatera Barat yang sejahtera dan berkelanjutan.  Dengan mempertimbangkan aspek budaya dan historis, sekolah bisnis tersebut diberi nama Minangkabau Business School and Entrepreneurship Center (MBS-EC) atau Sekolah Bisnis dan Pusat Kewirausahaan Minangkabau (SBPKM).

Kata-kata kunci didalam nama MBS-EC tersebut mengandung pemaknaan sebagai berikut.  Kata “Minangkabau” digunakan sebagai branding dan bentuk upaya menggali kekayaan budaya kewirausahaan, talenta dagang/peran saudagar/pelaku bisnis, serta dimensi kreatif dalam konteks alam takambang jadi guru (alam terkembang menjadi guru).  Penggunaan kata ini juga sebagai terminologi yang bisa menjadi basis sinergi dari para pelaku bisnis berpengalaman dan ahli IPTEK dan inovasi untuk mempersiapkan SDM pelaku bisnis dan kewirausahaan yang handal untuk memanfaatkan segala potensi untuk meningkatkan kesejahteraan Sumatera Barat.  Terminologi “sekolah” digunakan untuk memperlihatkan maksud untuk memfasilitasi proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi teknis dari peserta.  Juga, didalam kata sekolah ini terkandung niat untuk mengembangkan mahzhab berfirkir dan berbuat (school of thought and actions) berbasis budaya dengan fokus kepada melahirkan dan/atau memperkuat pelaku bisnis UMKM dan koperasi.  Inilah yang akan menjadi penciri dari MBS-EC.  Kata “kewirausahaan” (entrepreneurship) digunakan untuk menekankan pentingnya mengkombinasikan inovasi dengan potensi ekonomi yang ada sehingga bisnis UMKM dan koperasi tumbuh dan berkembang untuk menciptakan kekayaan yang ditujukan untuk kesejahteraan bersama.

 

  1. Tujuan.

Secara umum tujuan MBS-EC adalah menghasilkan wirausaha muda mandiri yang mampu memanfaatkan potensi ekonomi dan bisnis Sumatera Barat secara kreatif.  Wirausaha muda ini mencakup baik yang sudah mempunyai usaha maupun yang berminat menjadi wirausaha baru.  Upaya pencapaian tujuan ini dilakukan melalui penguatan kapasitas, penerapan inovasi, dan membangun jiwa dan praktek kewirausahaan.  MBS-EC mencakup dua aspek kegiatan yang saling terkait dan bersinggungan (overlapping), yaitu: (1) proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi yang berada pada domain sekolah bisnis (business school); dan (2) pengembangan kewirausahaan (entrepreneurship) yang berada pada domain pusat kewirausahaan (entrepreneurship center).  Berikut adalah tujuan khusus dari sekolah bisnis dan pusat pengembangan kewirausahaan.

 

2.1       Tujuan Business School.

  1. 1. Mencetak wirausaha muda yang memiliki core, conceps & competence yang berorientasi bisnis dan masa depan.
  2. 2. Memfasilitasi para profesional muda untuk meningkatkan kompetensi sesuai dengan posisi pada perusahaan saat ini, atau posisi yang akan ditempati sehingga dapat bekerja secara professional, memahami target dan memenuhi jobdesk yang diberikan.
  3. 3. Membantu perusahaan melakukan assessment terhadap calon karya
  4. 4. Memperbanyak praktik, simulasi, permainan serta projek-projek bisnis yang nyata  (expriential  learning),  diharapkan  lebih  mudah  dan  cepat memahami real business yang akan dijalaninya kelak.
  5. 5. Mengasah multiple intelligence dengan memberikan banyak keilmuan praktis, kepribadian serta kerohanian sebagai tujuan esensial seorang entrepren

 

2.2       Tujuan Entrepreneurship Center.

  1. Menjadi lembaga yang pusat informasi Sumatera Barat tentang potensi, resources, investasi, business opportunities dan lainnya.
  2. Menjadi lembaga penyedia data mutakhir berbagai bidang di Sumatera Barat untuk kepentingan peningkatan kapasitas SDM, bisnis dan investasi.
  3. Memaksimalkan seluruh potensi sumberdaya yang ada, dan mengembangkannya menjadi produkyang memiliki nilai tambah dan berorientasi pasar.
  4. Mendampingi para UMKM, BUMN dan BUMD dalam hal kelembagaan dan membangun daya saing bisnis yang menguntungkan dan mensejahterakan.
  5. Mengkaji berbagai peraturanpemerintah yang ada danmengusulkan peraturan-peraturan baru yang memungkinkan iklim berusaha dan investasi di sumatera barat menjadi menarik dan kondusif.
  6. Memberikan masukan kepada pemerintah tentang berbagai kebijakan, menguji sebuah rancangan peraturan daerah.
  7.   Melakukan riset-riset secara komprehensif, pemetaan kekayaan alam dan potensi unggulan di Sumatera Barat.

 

  1. Pendekatan Pembelajaran dan Kompetensi yang akan Dibangun.

Kondisi perekonomian dan bisnis yang berubah pada era digital memerlukan perubahan dalam cara berfikir (mindset), penguasaan pengetahuan bisnis supaya mampu beradaptasi dalam kondisi yang berubah, dan kapasitas dalam merencanakan dan mengelola bisnis.  Pendekatan pembelajaran diarahkan kepada membangun kecerdasan, sikap dan tindakan terkait dengan berbagai aspek tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah interaksi dengan pelaku yang berpengalaman, analisis kasus, penyiapan rencana bisnis, dan pengasahan kapasitas manajemen bisnis.

Kompetensi yang akan dibangun melalui proses penempaan di sekolah bisnis dan pusat kewirausahaan ini adalah sebagai berikut:

  • memahami lanskap (landscape) bisnis dan perubahan yang terjadi di era digital, suplai/permintaan, dan dinamika interaksi antar pelaku bisnis di cabang bisnis yg akan ditekuni;
  • mempunyai kemampuan menerapkan inovasi dalam pengelolaan proses produksi dan pemasaran (barang dan jasa) yang ditekuni (fokus pada produktifitas, efisiensi, nilai tambah, dan kualitas, dst);
  • mampu membuat perencanaan/proposal bisnis (business plan/proposal) yang feasible, kompetitif, dan berkelanjutan;
  • mampu melakukan komunikasi yang efektif dan lobi dan negosiasi dalam konteks operasionalisasi bisnis yang ditekuni;
  • mampu membangun sinergi dan kemitraan untuk mengembangkan bisnis dan menciptakan kemanfaatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat;
  • disamping ke-6 kompetensi diatas proses pembelajaran juga ditujukan untuk membangun karakter dan integritas kuat sebagai pelaku bisnis.

Mengingat bahwa ada dua kategori peserta (yang sudah mempunyai usaha dan yang baru akan memulai), proses dan metode pembelajaran akan mempertimbangkan latar belakang peserta tersebut. Untuk peserta yang sudah mempunyai usaha sifat pembelajarannya berupa kursus singkat dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan bisnis yang dihadapi.  Cakupan pembelajaran antara lain: pendekatan bisnis pada era digital, strategi baru marketing, pembuatan rencana bisnis, dan manajemen dan laporan keuangan.  Konsep dasar Pelatihan/Pembelajaran terkait dengan tujuan dan kategori peserta dapat dilihat pada Skema 1 berikut.

 

Sekema 1: Tujuan, calon peserta dan cakupan pelatihan/pembelajaran.

Tujuan, calon peserta dan cakupan pelatihan/pembelajaran.

Untuk peserta yang baru akan memulai usaha, proses dan metode pembelajaran dijalankan secara lengkap yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait, yaitu: training, coaching, mentoring, dan consulting.  Training fokus pada memberikan pengetahuan praktis dalam memahami lanskap bisnis dan pengelolaan proses produksi, peningkatan nilai tambah dan pemasaran.  Sementara kegiatan coaching diarahkan untuk mempraktekan pengetahuan yang sudah diberikan dan dibimbing untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis yang timbul.  Termasuk dalam kegiatan coaching ini adalah menyusun proposal bisnis.  Mentoring difokuskan  pada bimbingan untuk melakukan start-up sesuai dengan proposal yang dibuat.  Fungsi ini akan dijalankan oleh pelaku bisnis yang sudah mempunyai pengalaman.  Consulting memberikan saran dimana diperlukan kepada peserta dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan start-up.

 

Skema 2: Pendekatan pelatihan/pembelajaran untuk kategori peserta pemula.

image003 Pendekatan pelatihan/pembelajaran untuk kategori peserta pemula.

 

  1. Sifat sekolah dan rekrutmen peserta.

MBS-EC adalah sekolah dan pusat pengembangan kewirausahaan yg bersifat non-formal yang berfokus membangun pengetahuan dan kompetensi (calon) pelaku bisnis.  Tidak ada ijazah, seperti pada sekolah konvensional, yang akan diberikan.  Peserta yang memerlukan sertifikat kompetensi dapat mengambil ujian pada lembaga berwenang memberikan sertifikat kompetensi.

Peserta MBS-EC terdiri dari dua kategori.  Pertama, peserta yang baru akan memulai bisnis tetapi mempunyai bakat/talenta.  Untuk peserta kategori ini disyaratkan yang sudah lulus (berijazah) SMK, D3, atau S1 yang relevan dengan bidang bisnis yang akan ditekuni.  Kedua, adalah pelaku usaha yang sedang berjalan dan berkeinginan untuk mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya lebih lanjut.

Rekrutmen peserta, dari kategori pemula, dilakukan melalui proses seleksi dengan mempertimbangkan kriteria sebagai berikut: (1) aspek psikologi dan integritas; (2) aspek kemampuan kalkulasi dan determinasi (getting things done); (3) aspek bakat/talenta dan pengalaman bisnis.  Sementara rekrutmen peserta kategori yang sudah punya usaha bersifat aktif dan mempertimbangkan minat untuk pengembangan.

Peserta yang lulus dari proses seleksi/rekrutmen akan mengikuti proses pelatihan/pembelajaran dengan waktu yang bervariasi mulai dari seminggu sampai sekitar  6 bulan.  lama waktu ini disesuaikan dengan kategori peserta, jenis bisnis, dan cakupan materi pelatihan/pembelajaran.  Termasuk kedalam kegiatan ini adalah menyusun proposal start-up bisnis (bagi pemula atau proposal scaling-up bagi yang sudah menjalankan usaha.  Pembiayaan terhadap proposal start-up atau scaling-up tersebut didasarkan atas proses seleksi pula yang dilakukan oleh pelaku bisnis berpengalaman, lembaga keuangan, ahli kewirausahaan dan manajemen bisnis.  Proses ini diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang akan menjadi wirausaha muda mandiri untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya dan ekonomi kreatif Sumatera Barat.

Calon peserta melakukan pendaftaran untuk mengikuti seleksi. Untuk keperluan evaluasi awal, calon peserta mengisi dan mengirimkan formulir aplikasi (akan dibuat online) yang dilengkapi dengan dokumen pendukung (lihat format formulir pendaftaran seleksi).

 

  1. Infrastruktur pendukung dan pembiayaan pelatihan/pembelajaran.

Infrastruktur pendukung proses pembelajaran memanfaatkan fasilitas  yang sudah ada (melalui kerjasama) yang dimiliki oleh lembaga mitra dan bisnis.

Pembiayaan operasional pembelajaran/pelatihan bisa berasal dari CSR Perusahaan, Pemerintah daerah, Kementerian, dan lembaga lain yang mempunyai misi dan komitmen sejalan dengan MBS-EC.

 

 

Top

Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan hebat adalah Cintai apa yang anda lakukan.

Steve Jobs
(1955 – 2011)

Like dan Share ya….